Makna Simbolik Elemen-Elemen Lantai Teras Arupadhatu Candi Borobudur

I Gusti Putu Darmayuda

Abstract


Penelitian ini menganalisis makna simbolik elemen-elemen lantai teras Arupadhatu candi Borobudur menggunakan Semiotika Charles Sanders Peirce, dan Susanne Langger. Metode pendekatannya adalah kualitatif. Hasil penelitian adalah makna simbolis lantai teras Arupadhatu serta elemen-elemennya berdasarkan ajaran filosofis Buddha. Makna simbolik lantai teras Arupadhatu adalah unsur yang tak berwujud, merupakan simbol dari tahapan perjalanan spritual sang Buddha menuju kesempurnaan. Jalan menuju kesempurnaan disimbolkan dengan lantai teras melingkar bersusun tiga. Lantai teras lingkar terbawah adalah teras 7, lantai di atasnya teras 8. Di lantai teras 7 dan 8 terdapat stupa terawang belah ketupat, merupakan simbol dari jiwa yang masih terikat unsur-unsur pikiran dualisme. Di lantai teras 9 terdapat elemen stupa terawang bujur sangkar, merupakan simbol dari pencapaian keseimbangan jiwa, sehingga roh suci mampu masuk ke tahapan berikutnya menuju pencerahan tertinggi: sang roh suci berada di Alam kesunyata atau nirwana, terbebas dari ikatan reinkarnasi sesuai dengan tujuan utama ajaran Buddha. Perjalan akhir menuju ke-Buddhaan disimbolkan dengan elemen teras lantai 10, ditandai dengan elemen stupa Agung di puncak bangunan:  simbol dari alam semesta.


Full Text:

PDF

References


Ambarwati, D.R.S. (2009). Relevansi Vastushastra dengan Konsep Perancangan Joglo Yogyakarta, Jurnal Penelitian Humaniora, 14(2), 61-80.

Bernet-Kempers, A.J. (1976). Ageless Borobudur. Servire. file:///C:/Users/Windows%208.1/Documents/Ebook%20BB2.pdf (85)

Buchli, V.A. (1995). Interpreting Material Culture: the Trouble with Text, dalam Hodder et als. (eds.) Interpreting Archaeology, Finding Meanings in the Past. Routledge.

Creswell, J.W. (2019). Reseach Design, Pendekatan metode kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Cobley, P., Litza, J. (1999. Introducing Semiotik. New York: Icon Book-Totem Book.

Fiske, J. (1990). Cultur and Communication Studies. Jalasutra Yogyakart.

Kaelan. (1959). Petundjuk Tjandi: Mendut Pawon Borobudur. Yogyakarta: Tjabang Bagian Bahasa, Djawatan Kebudajaan Departemen P.P & K.

Kumar, N. (2003). The Buddhist Stupa: Yoga’s Sacred Architecture. Newsletter archives: Exotic India Art. http://www.exoticindia.com.

Geertz, C. (1992). Kebudayaan dan Agama. Penerjemah Francisco Budi Hardiman. Yogyakarta, Kanisius.

Littele John, S.W & Foss, Karen A, (2017). Teori Komunikasi. Salemba Humanika Jakarta.

Livingstone, R. (1962). The Traditional Theory of Literature. University of Minnesota, Minneapolis.

Mulyana, D. (2013). Ilmu Komunikasi, Suatu Pengantar. Rosda Karya Bandung.

Sobur, A. (2004). Semiotika Komunikasi. Remaja Rosdakarya Bandung.

Sudjiman, P., Art, V.Z (ed). (1996). Serba-serbi Semiotika. Jakarta Gramedia Pustaka Utama.

Tanudirjo, D.H. (2018). Borobudur Sebagai mandala; Masa Lalu dan Masa Kini. file:///C:/Users/Windows%208.1/Documents/Ebook%20BB2.pdf (83- 93).

Upasaka Pandita Sumatijnana. (2003). Sang Hyang KamahayananMantranaya dan Sang Hyang Kamahayanan, diterjemahkan oleh Yayasan Bhumisambhara.

Vera, N. (2014). Semiotika dalam Riset Komunikasi. Jakarta: Ghalia Indonesia




DOI: https://doi.org/10.25008/caraka.v1i2.45

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2020 I Gusti Putu Darmayuda



Indexed by: 
Google Scholar  

Copyright of CARAKA : Indonesia Journal of Communication


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.



Editorial Secretariat:

Indonesian Scientific Journal (Jurnal Ilmiah Indonesia)
Jl. Pasar Atas No 3, Kompleks Setramas Kota Cimahi, Bandung
http://idscience.id/


Contact Person: Prof. Dr. Rajab Ritonga (WA 0811133471)