Pers di Indonesia, Malaysia dan Thailand: Sama-sama Bebas tetapi Berbeda

Haresti Asysy Amrihani

Abstract


Setiap negara memiliki regulasi dalam mengatur kebebasan pers, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Kebebasan pers di Indonesia dijamin oleh Undang-undang Dasar 1945 Pasal dan Undang Undang Nomor No 40 Tahun 1999 tentang Pers. Di Malaysia, kebebasan pers diatur dalam Kontitusi Federal Pasal 10, dan di Thailand diatur dalam undang-undang pengaturan media yang dibuat oleh Majelis Persiapan Reformasi Nasional. Studi ini bertujuan untuk memahami kebebasan pers di tiga negara anggota ASEAN itu. Paradigma yang digunakan adalah konstruktivis dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Metode yang digunakan adalah studi literatur. Data diperoleh dari sumber sekundea seperti dari berbagai jurnal nasional dan internasional, buku, artikel, berita, maupun dokumen pendukung lainnya. Temuan penelitian adalah, dari ketiga negara tersebut, kebebasan pers di Indonesia relative lebih baik daripada Malaysia, dan Thailad. Indonesia menempati peringkat 113 dalam indeks kebebasan pers dari seluruh dunia, sedangkan Malaysia di urutan 119, dan Thailand di urutan 137.


Full Text:

PDF

References


Ahdiat, A. (2020, November 19). PM Thailand ancam gunakan seluruh aturan hukum untuk jerat demonstran. Antaranews.com. Diakses dari https://www.antaranews.com/berita/1849284/pm-thailand-ancam-gunakan-seluruh-aturan-hukum-untuk-jerat-demonstran.

Alim, M. (2017, Mei 3). Kebebasan pers di Thailand dikebiri, Jenderal ancam bunuh jurnalis. Jurnas.com. Diakases dari https://www.jurnas.com/artikel/15628/Kebebasan-Pers-di-Thailand-Dikebiri-Jenderal-Ancam-Bunuh-Jurnalis/.

Amri et al. (2021). Pro dan kontra Undang-undang nomor 40 tahun 1999 tentang pers sebagai lex specialis. Jurnal Ilmu Komunikasi, 7(1), 87-94.

Amrihani, H, A., Ritonga, R. (2021). Freedom of the press regulations in Indonesia and Sweden: Limited but Free. Jurnal Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia, 6(2), 353-361.doi: 10.250008/jkiski.v6i2.609

Anom, E. (2009). Kebebasan pers: Perbandingan antara Malaysia dan Indonesia. Jurnal Komunikologi, 6(2), 95-104.

Arunrugstichai, A. (2021, Juli 18). Tuntut PM mundur, warga Thailand demo di kala lockdown. Detik.com. Diakses dari https://news.detik.com/foto-news/d-5648093/tuntut-pm-mundur-warga-thailand-demo-di-kala-lockdown/3.

Baron, S, D., Davis, D, K. (2012). Mass communication theory, Chicago: Wadsworth.

BSSN. (2016). Perubahan kedua Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia. Diakses dari https://jdih.bssn.go.id/wp-content/uploads/2016/01/UUD1945PerubahanKedua.pdf.

Corben, R. (2017, Januari 31). Organisasi media Thailand desak amandemen RUU reformasi media. Voaindonesia.com. Diakses dari https://www.voaindonesia.com/a/media-thailand-desak-amandemen-ruu-reformasi-media-/3699134.html.

Deutsche Welle. (2021, Februari 9). Hari pers nasional: Pandemi Corona memperburuk kebebasan pers. Dw.com. diakses dari https://www.dw.com/id/pandemi-corona-memperburuk-kebebasan-pers/a-56506517.

Dewan Pers. (2020). Buku saku wartawan, Jakarta: Dewan Pers.

Dewan Pers. (2021, Oktober 18). Undang-undang No 40 tahun 1999. Dewanpers.or.id. Diakses dari https://dewanpers.or.id/kebijakan/peraturan.

Hananta et al. (2017). Peran militer dan sipil dalam politik dan pemerintahan di Thailand, Lampung: Universitas Lampung.

Hardt, H. (1997). Social theory of the press; Early German and American Perspective. Beverly Hilss: Sage Publications.

Hidriyah, S. (2020). Demontrasi pro-demokrasi di Thailand. Kajian Singkat Terhadap Isu Aktual dan Strategis, 12(20), 7-12.

Hutagalung, I. (2013). Dinamika sistem pers di Indonesia. Jurnal Interkasi, 2(2), 53-60.

Idrus, P. (2020, Oktober 20). Organisasi pers Thailand minta pemerintah tak sensor media. Aa.com.tr. Diakses dari https://www.aa.com.tr/id/regional/organisasi-pers-thailand-minta-pemerintah-tak-sensor-media/2012382.

Jalil, F. (2001). Kebebasan dan jenayah dalam berkarya, Kuala Lumpur: Dewan Sastera.

Kedutaan Besar Republik Indonesia Bangkok. (2020). Selayang pandang hubungan bilateral Indonesia dan Thailand, Bangkok: Kedutaan Besar Republik Indonesia Bangkok.

Kemlu. (2018). Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Penang Malaysia. Kemlu.go.id. Diakses dari https://kemlu.go.id/penang/id/read/malaysia/950/etc-menu.

Lesmana, T. (2005). Kebebasan pers dilihat dari perspektif konflik, antara kebebasan dan tertib sosial. Jurnal Ilmu Komunikasi, 2(1), 1-14.

Manan, B. (2012). Politik publik pers, Jakarta: Dewan Pers.

Mantalean, V. (2021, Desember 29). Anggap UU ITE momok media, AJI catat 3 jurnalis dipenjara sepanjang 2021. Kompas.coom. Diakses dari https://nasional.kompas.com/read/2021/12/29/21061491/anggap-uu-ite-momok-media-aji-catat-3-jurnalis-dipenjara-sepanjang-2021?page=all.

Maradona, S. (2021, Desember 1). ISWAMI sambut positif sikap PM Malaysia. Republika.co.id. Diakses dari https://www.republika.co.id/berita/r3fxgl475/network.

Martini, R. (2014). Analisis peran dan fungsi pers sebelum dan sesudah reformasi politik di Indonesia. Jurnal Ilmu Sosial, 13(2), 1-9.

Marzuki, P, M. (2005). Penelitian Hukum. Jakarta: Prenada Media.

Mauliansyah, F. (2018). Studi perbandingan konflik pers Indonesia dan pers Malaysia dalam konteks nationality of press dan neighbor’s press. Jurnal Universitas Teuku Umar, 3(1), 1-13.doi: 10.35308/source.v3i1.626

McQuail, D. (2002). Mass communication theory, London: Sage Publications.

Mutrofin., Abar, A, Z. (2002). Kemerdekaan dan profesionalisme pers di Indonesia. Makalah Diklat Jurnalistik Mahasiswa Jurusan Dakwah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Jember.

Nursalikah, A. (2021, Februari 19). Situs Malaysiakini dedenda Rp 1,7 miliar. Republica.co.id. Diakses dari https://www.republika.co.id/berita/qorx9q366/situs-malaysiakini-didenda-rp-17-miliar.

Othman, M. (2002). Erti kebebasan pers persekitaran yang membimbangkan. Sasaran: Kuala Lumpur.

Poti, J. (2011). Demokratisasi media massa dalam prinsip kebebasan. Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, 1(1), 17-29.

Purwanto, A. (2005). Kebebasna pers dalam perspektif hak asasi manusia dan asas praduga tak bersalah: studi kasus majalah Tempo dan surat kabar Jawa Pos, Jakarta: Tesis Universitas Indonesia.

Rahayu, M, I, F. (2007). Kebebasan pers dalam konteks KUHP pidana: Menyoal Undang-undang sebagai fungsi komunikasi. Jurnal Mediator, 8(1), 125-130.

Rakyat Merdeka. (2021, Mei 6). Indeks kebebasan pers RI kalah dari Timor Leste. Rm.id. Dikases dari https://rm.id/baca-berita/internasional/74967/indeks-kebebasan-pers-ri-kalah-dari-timor-leste.

Reporters Without Borders. (2021). 2021 world press freedom index. Diakses dari https://rsf.org/en/malaysia.

Rita, M. (2017, Februari 2). RUU ini diloloskan, kemerdekaan pers di Thailand temui ajal. Tempo.co. Diakses dari https://dunia.tempo.co/read/842225/ruu-ini-diloloskan-kemerdekaan-pers-thailand-temui-ajal.

Rizal, J. (2020, Oktober 19). Aksi masih terus terjadi, Pemerintah Thailand akan investigasi media. Kompas.com. Diakses dari https://www.kompas.com/tren/read/2020/10/19/165100765/aksi-masih-terus-terjadi-pemerintah-thailand-akan-investigasi-media?page=all.

Setiawan, A. (2021, November 30). Malaysia setujui 29 Mei sebagai hari wartawan nasional. Antaramews.com. Diakases dari https://www.antaranews.com/berita/2556493/malaysia-setujui-29-mei-sebagai-hari-wartawan-nasional.

Severin, W, J & Tankard, J, W. (2005). Teori komunikasi, Jakarta: Kencana.

Shahab, I. (2018, Februari 14). Malaysia dan kebebasan pers. Tempo.co. Diakses dari https://hukum.tempo.co/read/1060537/malaysia-dan-kebebasan-pers.

Siswanto. (2021, Februari 20). Komentar pembaca dianggap menghina, Malaysiakini dedenda 1,74 m. Suara.com. Diakses dari https://www.suara.com/news/2021/02/20/161459/komentar-pembaca-dianggap-menghina-malaysiakini-didenda-174-m.

Sukardi, W, A. (2007). Keutamaan di balik kontroversi undang-undang pers, Jakarta: Dewan Pers.

Sukardi, W, A. (2012). Kajian tuntas 350 tanya jawab UU Pers dan kode etik jurnalistik, Jakarta: Dewan Pers.

Susanto, E, H. (2013). Media massa, pemerintah dan pemilik modal. Jurnal Komunikasi, 1(6), 477-484.

Suwardi, H. (1993). Peranan pers dalam politik Indonesia: Suatu studi komunikasi politik terhadap liputan berita kampanye pemilu 1987, Jakarta: Pustaka SInar Harapan.

Triyono, D. (2013). The four press media theories: Authorianisme media theory, libertarianism media theory, social responsibility media theory, and totalitarian media theory. Jurnal Pengembangan Humaniora, 13(3), 194-201.

VOA. (2021, Februari 19). Situs berita Malaysia dedenda di tengah kekhawatiran kebebasan pers. Voaindonesia.com. Diakses dari https://www.voaindonesia.com/a/situs-berita-malaysia-didenda-di-tengah-kekhawatiran-kebebasan-pers/5784617.html.

VOA. (2021, April 24). Wartawan tanpa tapal batas: Kebebasan pers secara global menurun. Voaindonesia.com. Diakses dari https://www.voaindonesia.com/a/wartawan-tanpa-tapal-batas-kebebasan-pers-secara-global-menurun/5864875.html.

Waluyo, D. (2018). Makna jurnalisme dalam era digital: Suatu peluang dan transformasi. Jurnal Media dan Komunikasi, 1(1), 33-42.




DOI: https://doi.org/10.25008/caraka.v2i2.64

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2022 Haresti Asysy Amrihani



Indexed by: 
Google Scholar  

Copyright of CARAKA : Indonesian Journal of Communication


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.



Editorial Secretariat:

Indonesian Scientific Journal (Jurnal Ilmiah Indonesia)
Jl. Pasar Atas No 3, Kompleks Setramas Kota Cimahi, Bandung
http://idscience.id/


Contact Person: Prof. Dr. Rajab Ritonga (WA 0811133471)