Pengalaman FOMO dalam Budaya Nongkrong di Coffee Shop bagi Mahasiswa Early Financial Responsibility

Main Article Content

Rizkita Aprillia Rinaldi
Maulina Larasati Putri

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi fenomena early financial responsibility yang menggambarkan kondisi ketika individu harus mandiri secara ekonomi lebih awal dari seharusnya. Hal ini tidak hanya mempengaruhi masalah finansial, tetapi juga cara mahasiswa berkomunikasi, membentuk citra diri mereka, dan terlibat dalam masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari bagaimana mahasiswa early financial responsibility menghadapi budaya berkumpul di coffee shop, yang dianggap sebagai tempat komunikasi identitas dan juga tempat bersosialisasi bagi mahasiswa di kota. Metode yang digunakan dalam penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Informasi dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan lima mahasiswa yang mengalami early financial responsibility. Analisis data dilakukan dengan cara tematik yang meliputi reduksi data, menyajikan informasi, menarik kesimpulan, dan memeriksa validitas dengan triangulasi sumber dan member checking. Teori yang digunakan adalah dramaturgi oleh Goffman untuk melihat bagaimana orang mengelola citra diri mereka seperti front stage dan back stage, serta konsep Fear of Missing Out (FoMO) untuk memahami dorongan psikologis yang mempengaruhi keterlibatan sosial mahasiswa. Penelitian ini menemukan tiga strategi utama yang digunakan mahasiswa untuk menghadapi masalah finansial dan sosial, yaitu: (1) partisipasi selektif, di mana mereka hanya hadir di acara yang sesuai dengan kemampuan finansial; (2) adaptasi kreatif, seperti menghemat uang atau mencari cara murah untuk berkumpul; dan (3) penarikan diri, di mana mereka menjauh dari pertemanan, sebagian atau sepenuhnya. Strategi-strategi ini menunjukkan bagaimana mahasiswa bernegosiasi tentang identitas mereka melalui komunikasi simbolik agar tetap diakui oleh teman-teman mereka. Penelitian ini menyimpulkan bahwa early financial responsibility merupakan persoalan kompleks yang memperlihatkan kontribusi teoretis terhadap literatur komunikasi identitas dan manajemen kesan dengan menunjukkan bagaimana mahasiswa menegosiasikan pengakuan sosial di tengah tekanan ekonomi.

Article Details

Section
Articles