Antara Negosiasi dan Kritik: Analisis Resepsi Penonton mengenai Hegemoni Maskulinitas dalam Film “Deadpool & Wolverine”

Main Article Content

Farah Nabila Ardani
Aprilyanti Pratiwi

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis interpretasi penonton terhadap nilai-nilai patriarki dan hegemoni maskulinitas dalam film “Deadpool & Wolverine” (2024). Kerangka teoritis yang digunakan adalah teori encoding-decoding Stuart Hall. Studi ini mengadopsi pendekatan kualitatif deskriptif, dengan data yang dikumpulkan melalui analisis dokumenter, mengkaji pernyataan resmi dari para pembuat film mengenai makna yang dimaksudkan dari film tersebut, dan wawancara mendalam dengan lima mahasiswa sebagai penonton film. Data dianalisis melalui reduksi data, kategorisasi tematik, dan interpretasi menggunakan model encoding-decoding Stuart Hall untuk mengidentifikasi posisi interpretatif penonton terkait representasi maskulinitas dalam film. Temuan tersebut menunjukkan bahwa semua informan menempati posisi membaca yang dinegosiasikan sebagai sikap decoding dominan mereka. Mereka mengapresiasi upaya film tersebut untuk menggambarkan bentuk maskulinitas yang lebih ekspresif dan rentan secara emosional, sekaligus mempertanyakan reproduksi struktur patriarki yang tertanam dalam narasi yang didominasi laki-laki. Tidak ada informan yang menunjukkan pembacaan hegemonik-dominan murni atau pembacaan oposisi yang konsisten; penerimaan dan penolakan bersifat selektif dan individual. Gender dan modal budaya muncul sebagai variabel kunci yang membentuk kerangka interpretatif: informan perempuan lebih konsisten mengidentifikasi ketidaksetaraan gender struktural, sedangkan informan laki-laki lebih fokus pada dinamika internal maskulinitas. Temuan ini mengkonfirmasi argumen Hall bahwa decoding relatif otonom dari encoding, dan menunjukkan bahwa ambiguitas ideologis film superhero menciptakan ruang yang produktif untuk negosiasi makna penonton. Penelitian ini berkontribusi pada studi penerimaan audiens dalam konteks budaya populer Indonesia dan memberikan implikasi praktis bagi representasi gender yang lebih berimbang dalam sinema superhero.

Article Details

Section
Articles